Surat Seorang Kartini

May 22nd, 2008 by arfikanurhudatiana

Saya bangun. Dan saya melihat dunia yang sama. Kehidupan bergerak lebih cepat. Teknologi bekembang begitu pesat. Tapi saya yakin ini dunia yang sama. Dan saya tak yakin apakah inti dari perubahan, yaitu paradigma manusia, telah menunjukkan perbaikan yang significant, atau… mungkinkah apa yang kita perjuangkan sejak bertahun-tahun silam memang sedang berjalan di tempatnya sendiri?

Kaumku… Jika kalian menginginkan pendidikan yang tinggi, siapa yang bilang tidak berhak? Belum layak atau belum ada kesanggupan adalah satu hal. Tapi hak tidaklah sama, ia bukanlah sesuatu yang bergantung pada variable-variable. Aku bisa mengerti ketika engkau bilang belum sanggup untuk menikmati pendidikan yang layak. Mungkin memang sarananya saat ini belum memadai. Mungkin uang yang kau kumpulkan belum cukup. Mungkin mereka di atas yang diberi amanah masih saja belum peduli. Tapi katakanlah dengan berani, tak ada yang bisa menghilangkan hak pendidikan yang saya miliki, tak seorang pun.

Aku ingat kau pernah bilang begini padaku. Katamu, kau tak ingin melukai harga diri laki-laki. Ucapmu, kau ingin kebanggaannya tetap terpancar disana. Atas alasan itu, kau urungkan niatmu mengejar cita-citamu. Katakan padaku keyakinanmu. Kebanggaan yang kau bela ini, kebanggaan akan apa? Bahwa dirinya, di atas kertas, lebih pandai darimu? Bahwa dirinya, dalam wujud angka, lebih kaya darimu? Sudah kubilang dari dulu, jangan pernah tinggalkan logikamu. Apakah kamu akan kalah oleh ego semata? Ego semu yang tidak nyata nilai manfaatnya? Apakah kau sadar, kau sedang “berkorban” untuk seorang yang tidak siap menerimamu apa adanya, dengan segala potensimu dan kemampuanmu? Yang sebenarnya tidak percaya padamu seutuhnya, karena menurutnya kamu tidak akan menghormatinya jika ia tidak lebih berkemampuan darimu? Berkorbanlah, Sayang. Karena kau wanita, yang hidup dengan nilai keikhlasan yang luar biasa. Tapi berkorbanlah untuk sebuah perbaikan yang nyata, bukan ego manusia semata.

Tidak, aku bukan feminis. Tapi kenapa mereka menyebut feminis ketika aku meminta apa yang sudah menjadi hakku? Hak yang bahkan sudah melekat pada diri ini sejak lahir? Aku hanya ingin kesehatan ibu dan anak lebih diperhatikan. Apakah salah, kalau perempuan menuntut hak kesehatannya dipenuhi? Di lain hari, aku hanya berharap saudara-saudara kita dipekerjakan dengan layak dan dijamin untuk bekerja dengan nyaman dan aman. Lalu, mengapa tiba-tiba mereka bilang mengada-ada ketika seorang wanita melaporkan kasus sexual harassment di tempat kerjanya? Tak hanya dibilang mengada-ada, mereka akhirnya dipermalukan untuk kedua kalinya di depan public dengan sebutan mencari sensasi dan menjadi terbungkam di kemudian hari.

Berjuanglah, perempuan. Jangan gunakan ke-perempuan-anmu sebagai alasan untuk tidak berjuang, untuk tidak mau menanggung sakit. Bersikap sportif lah. Janganlah kau gunakan ke-perempuan-anmu untuk meminta perlakuan khusus. Bukan salah mereka kalau mereka menganggap kita manja. Di mana-mana, kita sering meminta perlakukan khusus, divisi khusus, apapun yang khusus hanya untuk perempuan. Mungkin memang benar, hanya wanita sendiri yang benar-benar mengerti issue-issue dan urusan-urusan yang berkaitan keperempuanan secara mendetail. Tapi apakah itu betul-betul benar? Ya, menurutku, kita mengisolasi diri sendiri dgn hal-hal khusus berbau perempuan yang kita dirikan. Dan ya, menurutku, laki-laki juga mengisolasi kita dengan menyuruh kita bergerak di bidang yang itu-itu saja, seksi konsumsi dan urusan dapur, misalnya, Kalau kita terisolasi, kapan kita (perempuan dan laki-laki) mengerti 2 sisi, layaknya mengerti 2 belah otak kiri dan kanan? Kita akan selalu butuh kedua belah otak kita. Jangan sombong… jangan sombong…

Aku bicara sendiri. Aku tak mewakili pihak manapun. Aku bicara sendiri dengan satu dua perspektif sebagai acuan. Karena itu, aku tahu penilaianku tak seutuhnya bisa disepakati, tak seutuhnya benar. Tapi, setidaknya, cukuplah suratku ini untuk mencoba menjadi sebuah pengingat. Bahwa banyak sekali hak-hak laki-laki yang juga merupakan hak-hak perempuan. Bahwa perempuan juga berhak atas ruang gerak yang lebih luas di manapun itu, pendidikan, kesehatan, ekonomi, science, tanpa perlu isolasi berlebihan sebagai khusus perempuan. Bahwa impact dari kontribusi perempuan juga bisa mencakup lingkungan, masyarakat, daerah, bahkan negara dan dunia. Bahwa Hillary Clinton, Aung San Suu Kyi, atau Angelina Jolie (not really referring to her career as an actress, but as goodwill ambassador for UN) adalah perempuan, sama dengan kita. Karena, walaupun Tuhan memang menciptakan otak laki-laki dan perempuan begitu berbeda, kupercaya, kita diciptakan dengan potensi, bakat, dan kemampuan berkontribusi yang sejajar…

Thank You

May 18th, 2008 by arfikanurhudatiana

Thank You, ya…

For the morning talks, the SMS messages, the phone calls, the MSN messages, everything… *Sok selebritis gini ngomongnya*

Thank You, ya…

For the Treat and Presents inside the DVD (Lele, I love youuuu), and for the cake…

Thank You…

*ngisi blog karena dibilang blognya sudah lumutan dan berjaring laba-laba saking ga pernah diapa2in lagi* Tuh, Ly.. udah diisi bbrp baris kata-kata, hehe…

Ways to Stay Happy when You Just Start Working

January 12th, 2008 by arfikanurhudatiana

   

Beralih dari dunia kampus dan nyemplung ke dunia kerja ternyata gampang susah susah. Awalnya tampak smooth, tapi pelan-pelan kelihatan deh kalau aslinya ga sesimple itu. Bekerja sama dengan REAL professionals yang sudah terbiasa dengan standard performance yang tinggi (meaning: ekspektasi juga tinggi) bakal bikin rada-rada kanchiong di awal. Berada di lingkungan di mana orang-orangnya busy2 semua bikin ga enak buat ganggu-ganggu tanya-tanya (tapi can’t be helped leh, kadang2 die die must nanya daripada sotoy dan tiba-tiba baru 1 bulan kerja udah di-kicked sama manager). Dan satu lagi, karena sering kali colleagues2 kita adalah orang-orang yang memang lebih memilih untuk kerja daripada kuliah atau research, mereka adalah tipe-tipe orang-orang yang klo ngajar suka sulit dipahami. In the end, ketika tanya sama mereka, we’ll look a bit stupid, hohoho.

      

Deal dengan REAL work yang artinya deal dengan REAL problem juga bakal bikin kita mikir, “Wah, yang dulu dikerjain di assignment pas kuliah koq beda banget ya?”  Jadilah kita harus belajar lagi dari awal (untungnya kita sudah punya backgroundnya sedikit, baik itu directly related atau tidak, dan itu lumayan helpful utk mempercepat proses belajar kita). Dan mulailah kita belajar dengan cara yang baru. Kita dikasih REAL problem, dan berangkat dari REAL problem ini, kita akan menyadari banyaknya lubang-lubang di otak kita dan berusaha menge-patch our brain satu demi satu bagian dengan mencari tahu dari berbagai sumber. Kalau ga bisa nge-google atau kelamaan klo nge-google, tanya si ini deh. Kalau si ini ga bisa kasih solusi, tanya si itu deh. Lari-lari ke sana kemari deh. We’re not really sure what the solution is yet. Dan dengan cara belajar seperti ini, the more problems you have, the better your understanding will be. So, the more kanchiong you are di awal2, the faster you get smarter, haha.

    

Bekerja juga berarti memegang REAL responsibility. To take ownership of one object and die die must take care of it. If problems occur, die die must solve. If you make mistakes, die die must correct them and bear the consequence. Inget ga sih pas masih kuliah? When you make mistakes, more often you’ll hear “It’s ok, you’re still learning”. Beda ye? Hehe. (sebenernya perbedaannya tidak se-ekstrim itu sih, tapi kurang lebih begitu deh).

    

So, to keep myself sane (hiperbolis), I realized that I had to do some therapy untuk mengobati penyakit2 kan chiong dan inferior by having these:

    

  1. “Don’t bother” MINDSET

Sebagai fresh grad, kita akan rentan sekali untuk di-underestimate karena kita ga punya track record of your experience. And when you just join, you simply know nothing! Then you’ll feel powerless, karena you don’t like that feeling of being underestimated, but you can’t do anything much! So, one of the best solutions is just to keep telling yourself, “Don’t bother!” You know that you’re still learning, so don’t be too hard on yourself. Just keep moving and make sure you’re progressing well…

   

  1. Positive ATTITUDE

Beradaptasi dengan orang2 yang beda generasi dan beda background itu lumayan berbeda dengan bagaimana beradaptasi dengan teman2 yang sepantaran atau berbackground sama. For me, it takes longer time. Perlu menunggu untuk merasa nyaman terlebih dahulu dengan orang-orang ini baru kemudian bisa see how we could contribute something. Don’t forget that you work so closely with ppl around you (at least, tempat duduk kalian dekat sehingga masing2 bisa saling mengintip computer screen satu sama lain). So ppl will easily get an impression of you. Dan don’t forget that tembok itu bertelinga. Jadi, klo tempat kerjanya ga banyak tembok, bayangin seberapa kencengnya bisik-bisik bisa terdengar.

   

  1. Prove Them your Quality

Ppl around you may see that you’re still learning (baca: you’re dumb). So it’s normal for them to put so little trust on you in the beginning. Kadang-kadang, ketika ada masalah, lebih mudah bagi mereka untuk put the blame ke seorang fresh grad daripada ke professional. Menyebalkan sih, terutama ketika root cause nya bukan si fresh grad. But it’s just the way it is. No need to say much. No need to be defensive. Just work harder and stay cool. Just go on and on. Pada akhirnya, what matters is the proof that you have REAL contribution. And time would tell whether you are reliable and worth keeping for the project.

   

  1. Don’t be Too Far Away from Your “home”

Here I define home as a joy… where you can easily be yourself, feel happy and comfortable. Home bisa berupa apa saja, your family, your campus life, your school friends, anything. It’s effective to make you feel not so alone and keep yourself in a good mood. To realize that you still have “life” out there because your current life’s still not that nice. So, keep the “home” around you sampai transisi itu bisa berjalan lebih smooth dan finally you enjoy the new life naturally.

   

  1. Find Yourself a Fairy Godmother.

Lucky to have seorang “ibu peri” di kantor. Seorang colleague yang sekarang sudah jarang nongol karena sibuk di project lain. Pada dasarnya “ibu peri” can be anyone. Your colleague, family, friend, senior, etc. Ibu peri ini bukan seperti superhero yang menolongmu di saat sulit. She’s just someone who genuinely cares, asks how you’re doing, checks whether you have problems and need to consult them with her (bukan yang technical2), and encourages you to keep going. Anyway… jika untuk pergi ke pesta dansa saja seorang Cinderella membutuhkan ibu peri untuk membantunya, tentu kita lebih butuh ibu peri untuk melakukan hal as significant as memasuki dunia kerja ;)

    

Cheers…

Browsing Some Pics (… and Recalling the Moments…)

January 6th, 2008 by arfikanurhudatiana

~Browsing Mode: On~

      

Adimas-Manda-Fika-Bram-Risyad-Daren ~ Sept06

    

Benq0013_5

One in US. One in Europe. One is missing in action (Grandpa Daren, where r u? too busy, I think).  Ok, left 3 now. And one still comes to office on Saturday, unfortunately, hihihi. Will we have another gathering soon? Everyone’s been so busy lately. Maybe later… sob sob…

    

Ri-Fika-Vid ~ Nov06

Hmmm… won’t publish the pic… too embarrassing =P you know which pic I’m referring to. It feels like old time. The 3 of us… hunting ppl for their pics, profile, and money =P now we’re hunting different stuff.. good for us, haha. One is hunting for Master degree *ciuuu ciuu..* Larissa’s classmate, ah? One is hunting for another package of benefits, hehe. Me? Hmm…in the process of thinking over how I’m driving my life further…

    

   

Njib-Ntur-Olip-Fika ~ Nov07

    

Dscn3849_1

We came in together… though we may not leave together *Njib will be killed if we leave at the same time, I bet, haha*. But we do know we share the same story (w/ different soundtrack & peribahasa, surely).  Love this group of ppl… bit weird… not so synchronized, in a way… but we’re talking at the same frequency… ABAP frequency xP Interesting individuals with interesting characters…  Nice Signature lunch, nice rooftop session, nice BBQ (additional ++ super fun “babysitting”). Must do all these again, k?

      

CEIndo03 ~ Jun06

      

Img_3615

The prettiest artifact of this 4 year-long journey. Haven’t been able to make one as good as this so far, though have already left campus for more than 6 months now… Yeah, it just takes time, I think ;) Semangat, Fika!

    

~ Browsing mode: Off ~

–Babbling–

November 9th, 2007 by arfikanurhudatiana

Bukan maksud untuk ga bersyukur. Bukan juga untuk berkeluh kesah bak nasi sudah menjadi bubur. Cuma pengen ngetik sesuatu yang bukan CODING. Dan juga bukan chatting.

Beberapa bulan ini terlalu sibuk memandangi dunia nyata. Ternyata dunia nyata itu berbeda. Di dunia nyata ada 2 kasta. Kasta pertama functional consultant namanya. Kasta kedua programmer namanya.

Di antara 2 kasta ada kehidupan yang harmonis. Notebook bertetangga rapi berbaris-baris. Programmer ternyata kasta teriris-iris. Tak boleh banyak ceriwis. Otak bekerja sistematis dan jari mengetik solusi logis. Berjam-jam “mengobrol” dengan mesin pake bahasa yang tak praktis. Jangan-jangan aku semakin berjiwa mesin-is *maksa*

Kadang-kadang customer datang ketika gerimis. Katanya banyak bugs yang sadis. Lalu functional consultant dibikin pusing sambil tersenyum manis. Programmer pun dipanggil tanpa muka bengis. “Bugs ini difixed, bisa selese hari kamis?” Programmer akhirnya hanya menangis. Sama sapa mau sinis-sinis? Namanya juga kasta paling bawah, paling miris. Aaaaaargh, sadisss…

Kalau sudah begini, semua jadi stress. Untung diriku emotionless. Kalau lagi bete kerja jadi males. Apalagi kalau ditambah hujan deres.

Udah ah. Daripada terus-menerus gundah. Makin lama makin parah. Lebih baik pergi bobo. Berharap memimpikan hmmm… you know… Hoahem… selamat maleeeeemmmmmm…

October 14th, 2007 by arfikanurhudatiana

Taqobbalallahu minna wa minkum…

Shiyamana wa shiyamakum…

Kullu ‘amin wa antum bikhoir…

Selamat Idul Fitri…

Mohon maaf ya, atas kata2 yang setajam silet, atau ekspresi sinis dan dingin, atau kebete2an, baik yang asli atau yang dibuat-buat…

Betul-betul mohon maaf…

September 30th, 2007 by arfikanurhudatiana

30 September 2007.

Aku sedang baca Catatan Seorang Demonstran. Tentang Soe Hok Gie. Dan aku kembali teringat untuk bangga menjadi orang indonesia. Bangga atas jiwa-jiwa ksatria yang tidak pernah lelah meneriakkan keadilan dan kejujuran atas nama moral. Atas nama kecintaan akan indonesia. Karakter-karakter yang sepertinya ada dalam dunia mimpi saja, tapi nyata di bumi Indonesia.

Negeri ini memang selalu bergolak. Sejak tahun itu, 1945. Hingga kini, 2007. Entah kenapa, 62 tahun sepertinya kami tak pernah benar-benar bahagia. Atau mungkin memang tak mungkin bangsa ini menjadi bahagia? Rakyat tetap sengsara setelah indonesia merdeka. Demokrasi terpimpin dan pemerintah lupa diri, lalai dalam kesenangan kekuasaan. Yang aku tahu, kemudian orde baru datang dan memberi rakyat harapan. Perekonomian memang lebih baik dan rakyat lebih mampu bernafas. Tapi negeri ini bagai drama saja. Rekayasa politik dan pembodohan di mana-mana.

Satu dekade lalu, hati para ksatria terluka. Katanya walau harganya mahal, politik mulai bangun dari tidur lelapnya. Katanya ada pelajaran besar tentang kebebasan dan demokrasi. Sekarang, setelah politik tak lagi bisa menyembunyikan dirinya, aku benar-benar tak tahu mau bilang apa. Apa indonesia sekarang lebih baik? Ah, Bapak Ibu, sepertinya ksatria-ksatria di jalan itu, mereka belum boleh bicara lelah. Aku tak tahu sampai kapan mereka harus terus-menerus mencoba mengoyak nuranimu. Yang jelas, sepertinya perjuangan mereka tidak akan selesai secepat itu. (maaf, aku hanya bicara tentang mereka. Dengan malu aku harus bilang, selama ini aku belum pernah berbaris bersama mereka).

Pahlawan, ‘manusia-manusia baru’ indonesia, kalau boleh meminjam istilah Gie untuk mereka yang lahir setelah kemerdekaan. Hidup seperti seorang pahlawan memang bukan berarti hidup seperti seorang Hok Gie. Tapi hidup yang jauh dari kesadaran kehidupan seperti yang Gie jalani, apa mungkin bisa menjadi pahlawan? At least, apa karakter akan tercoba dan idealisme akan terbangun? Gie, sudah sejak kecil begitu benci ketidakadilan atau perbuatan semena-mena oleh mereka yang berkuasa, termasuk gurunya yang menurunkan nilainya dalam sebuah mata pelajaran. Kemudian Gie tumbuh menjadi ‘manusia bebas’. Menjadi seorang intelektual, yaitu menyadari kelebihan dalam diri dan kemudian menyadari adanya tanggung jawab lebih untuk melakukan sesuatu. Meneriakkan keadilan lewat artikel-artikelnya. Hingga musuh pun bertambah. Hingga nyawa pun terancam. Dan sebagai seorang pahlawan menerima takdirnya. Takdir untuk kesepian.

Cuma satu yang ada di kepalaku sekarang. Aku malu. Bahkan menulis pun sekarang tak bisa. Seandainya menulis pun, semua dipaksa dari otak, bukan lewat inspirasi. Akhirnya menulis jadi makan waktu lama. Sudah lama, tak memuaskan pula. Karena semua kata keluar lewat otak, bukan hati.

Ah, sudah lama aku rindu sosok pahlawan. Tadinya kupikir ada bayang-bayang pahlawan di sini. Tapi aku lebih banyak melihat politik daripada moral. Bukan moralnya yang salah, tapi memang mungkin tidak ada lagi yang perlu digelisahkan secara moral di sini. Pemerintah bekerja keras tahu tujuan, untuk rakyat makmur, hidup nyaman dan tenang. Ya sudah, berarti tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan? Malah ujung2nya jadi kurang baik, masyarakat gampang complain ga penting karena standard hidup dan ekspektasi sudah tinggi, entahlah. Kalau sudah serba mudah begini, buat apa rakyat bawa-bawa bendera demokrasi? Tak peduli, politik hanya masalah mengisi posisi. Politik akhirnya hanya kupandangi dengan hampa.

Yah, paling tidak, dari politik hampa ini aku sudah membuktikan satu hal. Salah satu tanda kehidupan yang masih sehat adalah ketika manusia masih merasa dunia itu dinamis (bergerak). Masih menginginkan peningkatan dalam hidup, dalam segi apapun. Kini, mempertahankan pekerjaan sebagai tukang becak 20 tahun saja sudah harus disyukuri. Rasanya terlalu macam-macam (atau lebih biasa diistilahkan tidak tahu diri) untuk menginginkan kehidupan yang lebih baik ketika kehidupan bernegara sedang serba sulit (bagi sebagian besar saja karena sebagian kecil yang lain hidup sangat berkecukupan). Tukang becak mungkin dalam hatinya ingin tidak menjadi tukang becak lagi. Tapi, kapan tukang becak akhirnya berhenti menjadi tukang becak? Kalau alasannya karena zaman sedang sulit, sulit saja terus? Memang siapa yang akan menjamin kapan kesulitan ini akan berakhir. Ah, Tuhan. Manusia indonesia harus berhenti menyerah pada keadaan. Saat ini juga, harus ada kekuatan sebelum kekuatan itu sendiri jemu dan habis. Dan pada akhirnya nasib manusia indonesia bisa berubah… Tapi kapan? Mungkin memang belum waktunya berhenti bersabar…

Aku Ingin

August 20th, 2007 by arfikanurhudatiana

Aku ingin keluar

Keluar dari penjara

Segera bebas

Melukis angkasa

Atau bicara pada awan-awan

Aku ingin pergi

Pergi sejauh mungkin

Tak akan kembali

Tak ingin mengulang mati

Lepaskan separuh diri

Yang lama tak lagi kukenali

Aku ingin berdiri

Aku tak mau duduk lagi

Ku akan panggil dunia

Dan kubisikkan pinta

Kembalikan jiwaku!

Aku ingin pintar

Tinggalkan kebodohan

Maafkan kecerobohan

Berdiri tegak di hadapan

Sebagai jiwa yang yakin

Bukan lagi pura-pura yakin

Ah, sesungguhnya aku hanya ingin satu

Kembali menjadi diriku…

A Glimpse of Memory

August 3rd, 2007 by arfikanurhudatiana

Sssers_convo_compressed

Sekali lagi, sebuah turning point…

Rasanya baru sebentar…

Bertemu Adilla setiap hari… makan bareng, msn-an, dan kegiatan2 tidak penting laennya =P *tapi berarti, lho, Dil, hehe*

Mengganggu Manda setiap waktu…. Setiap senang dan sedih, setiap bete dan pengen ngedumel, 98776351…

Ketemu Reyhan di Quad dan mampir ke labnya…. MSN-an ga jelas, atau protes2 ga jelas kalau ketemu Reyhan lagi kumpul2 bareng "tetangga sebelah" =P

Ketemu Bram di kantin… *biasanya Bram jalan sama sapa ya? =P* terus malu2 gt ga mau duduk bareng qta, haha. Makan masakannya Bram di acara2 SSS… Mengagumi keteguhan hatinya, determinasinya sebagai seorang researcher…

Ketemu Risyad kalau 2003 kumpul… Risyad yang "romantis" sama Daren… Risyad yang baek hati sekali… Risyad yang gabruk… beda banget sama Daren yang judes, hahaha.

Ketemu Adimas di north spine… kenapa ya, klo qta ketemu qta ga pernah ngobrol banyak? soalnya cuma lewat doank siy, haha. Adimas yang sekarang tinggal bersama keluarga beruang…

Juga Barra yang jarang ketemu niy, sekarang… Met hidup berbahagia bersama Bowo, Reyhan dkk di CCK sana. Kapan2 mampir, ah.

Semua di sekolah… Tak terhitung rasa kangennya…

Baik2 ya, All… Thanks a lot for everything… Really really miss you…

swt oh swt -.-!

July 3rd, 2007 by arfikanurhudatiana

Sekedar sharing cerita 2 hari memulai kerja di department sendiri setelah 1 bulan training melulu *belom abis deng, trainingnya, huhuhu*. Baru 2 hari tp rasanya dah gabruk bgt aja. Kejadian2 gabruk ini terutama disebabkan oleh 2 orang senior yang bener2 deh, berasa sama senior bgt klo deket2 sama mereka (senior, as in senior di SMA =P). Pertama, karena mereka memang sudah bertahun-tahun lamanya kerja di section ini, jadi dari umur dan experience, jelas banget deh klo mereka senior. Kedua, dari knowledge dan skills mereka. Mereka 2 otaknya my section deh pokoknya. Mereka juga sering dengan baik hati (walau dgn style yg rada2 mengintimidasi)  ngajar2in orang2 baru. Tapi yang paling ajaib tentang mereka bukan hal2 yg disebut di atas, tapi kalimat2 yang sering terlontar dalam conversation2 qta sehari2…



—Day 1, afternoon, @ the staircase, going for a meeting—

K: “Hey, Arfika. Do you understand Chinese?”

à pertanyaan ini dilontarkan berhubung di section ini kagak ada engineers yg ga chinese

Me: “No, not at all.”

L: “Hey, do you have a Chinese name?” (nanyanya polos bgt)

Me: Bengong beberapa detik… *kyknya si K jg bengong*

Beberapa detik kemudian:

K: “Don’t have, lah… She doesn’t understand Chinese at all, she said. What for she has a Chinese name?”

L: *ketawa, manggut2*


—Day 1, afternoon, @ meeting room—

My 1st meeting, saudara2. Meeting kecil dgn section lain yang masi satu department. Satu orang dr section lain ini presentasi reportnya. Dan sesuai dgn yg sudah gw anticipate sebelumnya, gw ga ngerti! Terlalu banyak technical terms. Cuma ngerti bbrp persen dari yg diomongin, less than 50%. Dalam hati niat nanya ke engineer2 se-team nanti abis meeting.

Di tengah2 meeting:

K: (dgn volume agak rendah) “Arfika, you know how to calculate that value?”

Me: “Ha? No, lah. Only been here for 1 month, what? That thing, of course I never see before.” (Dalam hati: Oh, jd ceritanya pada ga ngerti jg, tho, huhuhuhu.)

Q: “Never mind, they’ll teach us later.” (ngomong dengan super duper santai)


—Day 2, noon, @ the section lorong—

K: “Hey, Arfika. So you’ve been here for 1 month, rite?”

Me: “Ya, why?”

K: “You know, we have a custom here. Usually the new hires will treat us after 1 month since they first came”

Me: “Ya, I know. But I heard after confirmation, rite?” (which is 5 months from now)

à merasa agak2 curiga krn skrg kan masi 1 bulan, koq udah dipalak aja.

K: “Where did you hear it from?”

Me: “My friend” *sambil nunjuk department sebelah*

K: “Different dept, mah. Here, we do it after 1 month”

Me: (Dalam hati ga percaya, tp di-iya-in sama colleague yg ga suka bully2, jd percaya) “Ok, then”

K: “This Indonesian restaurant, k?” (menyebut satu jenis Indonesian restaurant di causeway point)

Me: (Dalam hati) Aih, semangat bener, sampe udah ngincer tempat makannya -.-!

“You want to go there? Ok, no problem. But why, ah?”

K: “Nothing. It’s just because we often come across this place, and usually nobody eats there, always empty. So we don’t need to book, lah”

Me: “…” *gabruk, berpikir sebentar*

Me: “Hey, if the place always empty, then that means the food is no good, you know, or too expensive. Don’t want to go there”

(Dalam hati: Aduh, ni orang ga mikir smp ke situ, gitu, ya? -.-!)

K: “Hmmm” à *mungkin ni orang mikir, “bener jg, ya”*


—Day 2, noon, @ the cafeteria—

Btw ya, mereka jarang bgt makan di kantor, soalnya dah bertaun2 kerja di situ, jadi bosen sama makanannya. Entah krn lg ga ada mobil, atau kayaknya krn siang ini ada presentasi abis lunch break dan mereka lg sibuk siap2, mereka terpaksa makan di kantor =P

K: “So, what do you like to do in your spare time?”

Me: (jawaban standard) Reading, sometimes watching movies, the normal2 ones, lah. Then, what about you?”

L: (Dengan tampang serius) “We’re intelligent people, you know. You see, in our section, we must be creative and smart. So we like to play board games, to improve our critical thinking and creativity in solving problems.”

Me: (Antara percaya ga percaya sama jawaban mereka. Percaya krn mereka emang pinter2 abis plus nyolot (nyolot menunjukkan klo mereka kritis =P). Ga percaya krn “masa’ iya, siiiiiiiiiy? Boong banget gt, lho, jawabannya.” Dalam hati pengen bales, “Ih, ngaku2 suka board games, dah pernah ke Mind Café, blom? Pasti belom deeeeeeeeeeh”, tp udah malez nimpalin mereka, so…continue eating aja lah)

Oh, swt…

Note: swt = -.-! (emoticon sweat drop)