Surat Seorang Kartini
May 22nd, 2008 by arfikanurhudatiana
Saya bangun. Dan saya melihat dunia yang sama. Kehidupan bergerak lebih cepat. Teknologi bekembang begitu pesat. Tapi saya yakin ini dunia yang sama. Dan saya tak yakin apakah inti dari perubahan, yaitu paradigma manusia, telah menunjukkan perbaikan yang significant, atau… mungkinkah apa yang kita perjuangkan sejak bertahun-tahun silam memang sedang berjalan di tempatnya sendiri?
Kaumku… Jika kalian menginginkan pendidikan yang tinggi, siapa yang bilang tidak berhak? Belum layak atau belum ada kesanggupan adalah satu hal. Tapi hak tidaklah sama, ia bukanlah sesuatu yang bergantung pada variable-variable. Aku bisa mengerti ketika engkau bilang belum sanggup untuk menikmati pendidikan yang layak. Mungkin memang sarananya saat ini belum memadai. Mungkin uang yang kau kumpulkan belum cukup. Mungkin mereka di atas yang diberi amanah masih saja belum peduli. Tapi katakanlah dengan berani, tak ada yang bisa menghilangkan hak pendidikan yang saya miliki, tak seorang pun.
Aku ingat kau pernah bilang begini padaku. Katamu, kau tak ingin melukai harga diri laki-laki. Ucapmu, kau ingin kebanggaannya tetap terpancar disana. Atas alasan itu, kau urungkan niatmu mengejar cita-citamu. Katakan padaku keyakinanmu. Kebanggaan yang kau bela ini, kebanggaan akan apa? Bahwa dirinya, di atas kertas, lebih pandai darimu? Bahwa dirinya, dalam wujud angka, lebih kaya darimu? Sudah kubilang dari dulu, jangan pernah tinggalkan logikamu. Apakah kamu akan kalah oleh ego semata? Ego semu yang tidak nyata nilai manfaatnya? Apakah kau sadar, kau sedang “berkorban” untuk seorang yang tidak siap menerimamu apa adanya, dengan segala potensimu dan kemampuanmu? Yang sebenarnya tidak percaya padamu seutuhnya, karena menurutnya kamu tidak akan menghormatinya jika ia tidak lebih berkemampuan darimu? Berkorbanlah, Sayang. Karena kau wanita, yang hidup dengan nilai keikhlasan yang luar biasa. Tapi berkorbanlah untuk sebuah perbaikan yang nyata, bukan ego manusia semata.
Tidak, aku bukan feminis. Tapi kenapa mereka menyebut feminis ketika aku meminta apa yang sudah menjadi hakku? Hak yang bahkan sudah melekat pada diri ini sejak lahir? Aku hanya ingin kesehatan ibu dan anak lebih diperhatikan. Apakah salah, kalau perempuan menuntut hak kesehatannya dipenuhi? Di lain hari, aku hanya berharap saudara-saudara kita dipekerjakan dengan layak dan dijamin untuk bekerja dengan nyaman dan aman. Lalu, mengapa tiba-tiba mereka bilang mengada-ada ketika seorang wanita melaporkan kasus sexual harassment di tempat kerjanya? Tak hanya dibilang mengada-ada, mereka akhirnya dipermalukan untuk kedua kalinya di depan public dengan sebutan mencari sensasi dan menjadi terbungkam di kemudian hari.
Berjuanglah, perempuan. Jangan gunakan ke-perempuan-anmu sebagai alasan untuk tidak berjuang, untuk tidak mau menanggung sakit. Bersikap sportif lah. Janganlah kau gunakan ke-perempuan-anmu untuk meminta perlakuan khusus. Bukan salah mereka kalau mereka menganggap kita manja. Di mana-mana, kita sering meminta perlakukan khusus, divisi khusus, apapun yang khusus hanya untuk perempuan. Mungkin memang benar, hanya wanita sendiri yang benar-benar mengerti issue-issue dan urusan-urusan yang berkaitan keperempuanan secara mendetail. Tapi apakah itu betul-betul benar? Ya, menurutku, kita mengisolasi diri sendiri dgn hal-hal khusus berbau perempuan yang kita dirikan. Dan ya, menurutku, laki-laki juga mengisolasi kita dengan menyuruh kita bergerak di bidang yang itu-itu saja, seksi konsumsi dan urusan dapur, misalnya, Kalau kita terisolasi, kapan kita (perempuan dan laki-laki) mengerti 2 sisi, layaknya mengerti 2 belah otak kiri dan kanan? Kita akan selalu butuh kedua belah otak kita. Jangan sombong… jangan sombong…
Aku bicara sendiri. Aku tak mewakili pihak manapun. Aku bicara sendiri dengan satu dua perspektif sebagai acuan. Karena itu, aku tahu penilaianku tak seutuhnya bisa disepakati, tak seutuhnya benar. Tapi, setidaknya, cukuplah suratku ini untuk mencoba menjadi sebuah pengingat. Bahwa banyak sekali hak-hak laki-laki yang juga merupakan hak-hak perempuan. Bahwa perempuan juga berhak atas ruang gerak yang lebih luas di manapun itu, pendidikan, kesehatan, ekonomi, science, tanpa perlu isolasi berlebihan sebagai khusus perempuan. Bahwa impact dari kontribusi perempuan juga bisa mencakup lingkungan, masyarakat, daerah, bahkan negara dan dunia. Bahwa Hillary Clinton, Aung San Suu Kyi, atau Angelina Jolie (not really referring to her career as an actress, but as goodwill ambassador for UN) adalah perempuan, sama dengan kita. Karena, walaupun Tuhan memang menciptakan otak laki-laki dan perempuan begitu berbeda, kupercaya, kita diciptakan dengan potensi, bakat, dan kemampuan berkontribusi yang sejajar…

