Archive for January, 2007

Merindukan Belajar yang Menyenangkan?

Monday, January 29th, 2007

Buat yang pernah ngerasain SD, SMP dan SMA. Apakah belajar di kelas itu menyenangkan? Udah, jujur aja, pasti lumayan banyak yang bilang ga menyenangkan, hihihi. Kalau dipikir-pikir, dari saya kecil sampai sekarang, saya merasa belajar itu sangat  menyenangkan malah ketika saya belajar pendidikan informal, lho, bukan ketika belajar di bangku yang saya duduki di SD, SMP, atau SMA. Waktu TK dulu lumayan menyenangkan, soalnya bisa sesuka hati. Dulu saya hobi sekali bolos. Bisa dibilang waktu TK nol kecil, saya lebih sering bolos daripada sekolah, hahaha. Masih ingat banget, ketika bangun pagi dan rasanya males banget sekolah. Udah dibangunin capek-capek sama orang tua, saya malah bilang “Ga mau sekolaaaaaah” Dan akhirnya saya sukses ga sekolah hari itu dan main-main saja di rumah.  Nakal, ya? Tapi saya ga peduli. Yup, saya ga peduli. Segalanya berubah drastic ketika saya naik ke nol besar. Saya rajin sekali sekolah. Koq bisa? Iya, setelah saya tahu bahwa sekolah itu menarik. Saya diajarin menari, menyanyi, dan lebih lagi, saya dimotivasi oleh guru saya. “Coba Fika sekolahnya lebih rajin lagi dan ga sering bolos, lebih banyak, lho, yang bisa Fika kerjain di sekolah. Ranking Fika juga bisa lebih baik lagi.” Kalimat itu betul-betul menggugah semangat saya untuk sekolah. Dan saya berubah dari Fika yang bandel ga mau sekolah jadi Fika yang rajin sekolah, hehe.

Yang paling berharga buat saya ketika belajar di SD dan SMP bukan ketika saya duduk di kelas mendengarkan pelajaran. Yang menyenangkan buat saya adalah ketika saya ikut pramuka, dokter kecil, majalah dinding, drumband, les organ, dan les nari. Beberapa kali saya diajak ikut lomba bareng teman-teman atau main ensemble buat acara sekolah. Sebetulnya saya sangat termotivasi buat sekolah, tapi dulu lebih karena tertarik untuk menjadi juara kelas atau juara sekolah. Achievement itu sesuatu yang menyenangkan. Rasanya puas ketika kita bisa menaklukkan sesuatu. Kalau ilmunya sendiri, ya biasa2 saja, misalkan disuruh hafalkan ya dihafalkan. SMP juga begitu. Kalau ditanya minat, dulu saya suka belajar matematika dan fisika. Tapi tetap saja, apa yang saya lakukan di luar sekolah lebih menarik buat saya.

Dari tadi saya bilang bahwa apa yang saya lakukan di luar sekolah lebih menarik buat saya. Memang apa menariknya les musik, nari, pramuka, dan kawan-kawannya itu? Hmm.. melakukan itu semua, saya merasa bahagia. Melakukan itu semua, saya merasa saya ga menghabiskan energi saya, tetapi malah merecharge baterai saya dan membuat saya mampu berpikir logis ketika saya menghadapi masalah di bagian kehidupan saya yang lain. Melakukan itu semua, saya tahu bahwa hal-hal yang saya lakukan itu ada gunanya buat saya dan saya lihat jelas bukti kegunaannya. Melakukan itu semua, saya merasa belajar, tidak hanya belajar technical di bidang tersebut, tapi juga secara emosi. Tanpa disuruh2 saya semangat sekali melakukan itu semua. Pengalaman emosional yang paling saya kenang adalah bersama 2 orang guru saya waktu les musik. Mereka percaya saya bisa lakukan sesuatu yang di awal tampak begitu sulit. Mereka ga pernah berhenti tersenyum untuk saya walau saya kepayahan ketika ujian atau kompetisi karena tidak sempat latihan. Mereka tertawa bersama saya dan teman-teman yang lain ketika di kelas. So simple, tapi saya melihat guru-guru yang tulus, passionate, dan bahagia ketika mengajar. Sesuatu yang jarang saya lihat di kelas SD, SMP, dan SMA saya.

Hmm… saya tahu, ada masalah dalam sistem pendidikan formal kita, paling tidak dari 2 aspek. Sistemnya dan mentalnya. Sistem? Tentu. Karena kurikulum belajar yang begitu berat dan padat ini ternyata jarang membuat kita mampu menumbuhkan minat pada pelajaran itu di dunia nyata. Karena banyaknya pelajaran ini pada akhirnya tidak terasa cukup berguna buat kita selain untuk dapat nilai bagus dan masuk SPMB atau alasan lainnya. Lalu? Apakah ilmu-ilmu itu terbang begitu saja dengan sia-sia?

Mental? Opini pribadi, memang. Anda boleh setuju boleh tidak. Tapi tidakkah sekolah seharusnya menyenangkan? Tidakkah sekolah seharusnya membawa kebahagiaan buat murid dan gurunya? Setiap hari kita menghabiskan waktu dari pagi sampai sore di sekolah. Ketika pulang ke rumah, kita sudah lelah dan belum tentu kita tidak menemukan masalah lain di rumah. Ketika belajar selama berjam-jam itu, haruskah kita tersiksa dengan pengalaman belajar yang buruk?

Ah, saya hanya mengeluh. Tapi saya berharap suatu hari sekolah SD, SMP, dan SMA di Indonesia itu bisa betul-betul menyenangkan. Pelajarannya menarik, terasa berguna untuk kehidupan. Setiap murid berhak bertemu guru-guru yang menakjubkan yang bisa menginspirasi dan mengembangkan kecerdasan emosi mereka. Buat pak guru favorit saya yang sering ketinggalan barang2 dan suka susah nyari kunci, saya doakan bapak sukses terus mengajar. Buat pak guru favorit saya yang datang ke sekolah setiap Senin, Kamis, dan Jumat, saya percaya bapak akan selalu make a difference ;) Yosh, terus berjuang!

PINTU AGM and My Other Lessons for Today

Saturday, January 20th, 2007

Yesterday, 19 January 2007, adalah sebuah momentum besar bagi kebanyakan Indonesian students di NTU, especially Mbah. Tadi malam, sebuah committee yang menurutku sangat hardworking dan solid menyerahkan kembali amanat yang telah mereka pegang selama hampir setahun kepada publik.

Duduk diam di belakang, di satu-satunya kursi kosong di sebelah Yosafat, suddenly the moment became a real tense moment for me. Mungkin salah satunya karena peserta AGMnya subhanallah banyak sekali, terharu juga *sob sob*. Akhirnya LPJ selesai tanpa hambatan sama sekali setelah Q&A session usai dalam beberapa detik. *iya lah, gimana mau ada hambatan, ga ada yang nanya, hehe* Rasanya lega, ya, ternyata? Sebuah kepengurusan PINTU akan berputar kembali. Diisi dengan wajah baru, ide-ide baru dan harapan-harapan baru.

Ada 2 pelajaran untukku tadi malam. First, my simple chit-chat with Manda. Kata-kata Manda emang bikin mikir. Thank you, Honey =) Simple chat yang dilanjutkan dengan sms-sms an yang berakhir tanggung karena Manda pulang duluan bikin diri ini jadi sangat sadar akan sesuatu. Oya, kenapa sangat sadar? karena sebelumnya sebenarnya sudah sadar =P *garink, ya?* I do realize that I’ve adopted meritocracy, a classical system of Singapore, in my thoughts and actions very well until today. Dan dalam sebuah case, meritocracy-ku ini ternyata berkonflik dengan integrity-ku sendiri. There’s nothing really wrong about meritocracy, I think. Meritocracy terbukti baik, adil, simple, dan objective bagiku. Tapi ternyata ada hal-hal yang lebih baik, atau mungkin lebih tepatnya HARUS dilakukan dengan sistem selain meritocracy, entah itu memang lebih baik atau tidak.

Pelajaran kedua muncul dari sebuah pertanyaan dari floor untuk calon presiden ketika Q&A session. Pertanyaannya kurang lebih tentang seberapa aware-nya kita dengan masalah-masalah yang dihadapi PINTU. Wah, tanya Adilla deh, fika langsung nunduk. Benar sekali, setiap organisasi punya masalah, dan di PINTU lalu dan sekarang juga ada masa-masa sulit, masa-masa banyak masalah. Ada masa-masa ujian di mana ikatan kita diuji apakah ternyata cukup kuat atau tidak untuk mampu mempercayai satu sama lain. I made many mistakes back then. I did a lot of bad things back then. I still remember how our series of PON eventually ended after our very last PON 6 and the fact that it was partly my mistake as IUC rep. And deep inside, I’m truly sorry for what happened.

Anyway, this two-year time has been a real short period of time with many little things which made it so enjoyable, especially yearbook experience with Rico’s committee, Linsien’s and definitely mine ^^ I do believe that miracles exist. I’ve seen one in PINTU 4th management committee. I was there for only one semester, but I did see miracle. It’s when I saw a solid teamwork led by a good leader believing that this team could trust each other and achieve more than what they thought they could. To everyone in both PINTU 3rd and 4th management committees, Thank You, Thank You, Thank You ;)

First drop of ink

Friday, January 19th, 2007

Bismillah…

Jeng jeng, Fika nulis blog *plok-plok* (applause as background).

Iseng aja, memanfaatkan fasilitas fs, haha. Pengen tau rasanya nge-blog. Won’t be updated frequently. Won’t be written in proper English or Indonesian. Tapi semoga ada gunanya, setidaknya sedikit, insya Allah.