Archive for March, 2007

…. (part 2)

Friday, March 30th, 2007

Melanjutkan postingan sebelumnya…

Hari ini daku baru balik dari kandang macan. Btw ya, setelah sampai di depan kandangnya, daku sempat terpatung sejenak. Macan yang ada di dalam tampak lemah, letih, dan lesu. Dengan super SKSD, daku sapa macannya, “Mas macan, boleh mampir ke dalam?” Dan tiba-tiba si macan langsung tampak bahagia. *Ya iya lah, tiba2 ada “makanan” suka rela menawarkan diri buat dimakan tanpa perlu dikejar-kejar, huhu*. Begitu masuk, dia langsung mempersilakan duduk, di rumput, tentunya (berasa piknik di Chinese garden) dan menyuguhkan makanan ringan ala kadarnya. Tapi tau lah, yang namanya macan, snacknya ya daging juga, macem sosis dan fishball, yang mana semuanya masih mentah >.< jadi daku cuma senyum-senyum aja ga makan. Sebagai macan Singaporean yang lumayan aware dengan status halal makanan ketika ngejamu tamunya yg muslim, dia bilang, “Not makan, ah? Dun worry! Here, everything’s Halal, you know. You see, ah? We got all these animals from many different places, so we’re more careful on food. Like who is muslim, who is vegetarian, in the neighborhood. We even got some animals with allergy.” Dan sekali lagi daku cuma tersenyum-senyum. Kali ini sambil bengong.

Si macan memulai conversation dengan bertanya, “How’s life?” dan mengalirlah perbincangan kita. Tadinya kirain ini jebakan aja, biar lengah, tapi ternyata engga tuh. Dia serius ngobrolnya. Akhirnya tahulah daku bahwa si macan sedang depresi. Setiap hari tinggal di kandang ditontonin orang, Mas macan lelah dengan ekspektasi pengunjung yang begitu tinggi sama dia. Yang berharap dia selalu tampil prima berpose sadis sekaligus cool dari jam 10 pagi sampai sore, setiap hari pula. Padahal dia kan bosan, lagi banyak masalah pula. Padahal kan dia hanyalah macan biasa, yang boleh bete kadang-kadang. Waduh, tiba2 jadi counseling session gini. Dan dalam sekejap daku berubah menjadi seorang counselor. Walau lebih banyak diam (berhubung tidak terlalu mengerti emosi macan, daku takut kalau sotoy daku langsung ditelan) daku menikmati conversation selama 2 jam tersebut.

Waktu pulang, daku dikasih oleh-oleh sama si macan. Tiket gratis masuk Singapore Zoo buat bulan depan! Katanya buat counseling session berikutnya. Daku cuma melongo beberapa detik deh. Tapi tetap tersenyum manis berterima kasih buat tiket gratisnya. Dan berakhirlah cerita ini di sini.

      

Moral of the story:

Cerita ini masih cerita yang biasa, hanya dalam bentuk yang berbeda. Biasa lah, Fika, kadang2 pengen sensasi *bletak!* Cerita ini bukan luapan depresi. Alhamdulillah daku baik2 saja. Tidak depresi, tidak stress (tepatnya malah slacking2 mulu), masih suka ketawa-ketiwi, masih suka GJ, masih suka mengganggu2 dan diganggu2 orang =P Don’t judge a book by its cover, don’t judge me by my writings, hihihi. You didn’t even see my expression when I was writing the previous one, did you? Makanya, internet itu berbahaya, banyak orang bohong di internet *lho? Kesimpulannya koq malah jauh2 sampai sini?*

Sebenarnya cerita ini ga masuk akal. Tapi intinya bukan di ga masuk akal nya =P ngutip ikono, “maklumlah, anak muda”, sering ga masuk akal =P *bletak lagi!* Gw hanya pengen nge-share sebuah point bahwa terkadang, ketika kita baru saja terpikir untuk berhenti atau berputus asa, hikmah dan pertolongan Allah datang. Seperti si gw yang ceritanya mau terjun, ternyata gw melihat ada orang lain (dalam hal ini macan, bukan orang) yang lebih kesulitan daripada gw dan ternyata gw masih bisa membantu si macan buat mengatasi depresinya =9 Tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk berputus asa, bukan? Karena apapun yang kuhadapi, Allah Maha Tahu kemampuan hambaNya. Dan Allah tidak menguji hambaNya di luar kemampuannya =)

“Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan kebajikan, Kami tidak akan membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Mereka itulah penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.” (Al A’raf:42)

Masih ada beberapa perumpamaan lain sih, seperti bagaimana ekspektasi bisa menjadi pressure tersendiri buat macan (baca: manusia). Bahwa macan Singapore Zoo itu tetap macan biasa yang punya perasaan, haha. Yang bisa mood2an juga. Yah, namanya juga macan, punya kelebihan dan kekurangan, ada kalanya sedang kuat dan ada kalanya sedang lemah.

Terakhir, maaf ya buat yang ga berkenan dengan tulisan sebelumnya, hehe. Fanny, makasih banyak, ga ada apa2 koq. Itu penggunaan kata “terjun”nya memang hiperbola sekali. Soalnya, klo ga hiperbola, ga seru, Fan =9 *bletak lagi!* Lagian, Tech sedang menunggukuuuuuuu =9 Ceritanya cuma lagi ada banyak ide random di kepala yang akhirnya berujung pada cerita GJ seperti ini. Mungkin karena mau exam =P

Met persiapan exam, Semua ;)

….

Wednesday, March 28th, 2007

    

Sebuah conversation di suatu hari….   

   

W: “Abis lulus mau tinggal di mana?”

F: “Hmmm.. mana aja deh. Pengennya sih yang deket Singapore River.”

    

W: “Lho? Kenapa?”

F: “Biar gampang kalau depresi, bisa langsung terjun.” 

    

W: “….”

      

W:  “Oh, kalo gitu di deket Singapore Zoo aja.”

F: “Kenapa?”

    

W: “Daripada terjun ke Singapore River, mending terjun ke kandang macan.”

F: “…”

   

F: “Oh, iya, bener. Sebelum terjun ke kandang macan, ntar aku ke kandang monyet dulu deh. Foto kenang2an sama kamu di sana.”

   

End of story, yang nulis ini lagi mikir mau terjun ke mana. Kemarin sih disaranin ke kolam yang depan Quad aja sama boss. Adoh, ga menantang banget, tapi. Jadi, sekalian mikir, sekalian terjun, sekalian absent nulis. Saya akan kabari kalau saya sudah terjun…

   

HEROES

Monday, March 19th, 2007

       

Walau jaman terus berubah dan ada banyak pergeseran dalam kehidupan, ternyata masih ada satu hal yang belum berubah dari yang namanya masa kanak-kanak. Anak-anak masih suka sama yang namanya tokoh-tokoh pahlawan atau superhero dan ingin menjadi seperti pahlawan kesukaannya. Yah, kalau dulu siapa ya tokoh pasaran yang digemari anak-anak? Satria baja hitam, mungkin. Atau tokoh Nirmala yang baik hati di majalah Bobo. Kalau jaman sekarang agak-agak lebih keren kali, ya? Kan sekarang lebih variatif. Anyway, jadi kepikir, walau Mario Bross itu nyelamatin putri dari tokoh naga yang jahat, koq ga ada anak-anak yang pengen jadi Mario Bross ya? Hahaha *ga penting*

      

Kalau dipikir-pikir, setiap orang itu sebenernya harus jadi hero, lho, bahkan sejarah kepahlawanannya sudah dimulai sejak ia lahir. Ketika seorang anak lahir, orang tua akan berusaha memberikan nama yang terbaik dan terindah buat putra-putrinya kan? Dan itu sebenernya menjadi tugas sang superhero yang pertama di dunia. Mewujudkan doa orang tua yang terukir di namanya.

    

Ketika si anak mulai tumbuh, dia akan sekolah. Ketika sekolah, dia bakal ngerjain banyak tugas buat melatih skills dan memperdalam pemahaman dia tentang pelajarannya. Terus, pernah kepikir ga sih, kalau tugas yang dikerjain ini suatu saat bisa save the world? Norak sih kedengerannya, apalagi kalau kita ngebayangin tugas-tugas jaman SD dulu. Masa’ gambar pemandangan aja bisa save the world? Tolooooong, gambar sawahnya aja kotak-kotak =P Yah, emang kayaknya ga mungkin buat save the world sih. Tapi jangan pesimis dulu, kan at least save yourself dari dimarahin guru pelajaran menggambar dan orang tua, hehehe. Itu bagian dari save the world juga, lho. Ada bagian kecil dari permukaan bumi yang sedikit lebih tenang dan tidak terkepul oleh "asap" yang keluar dari kepala, hehe.

   

Suatu saat, Arinto nulis begini, “Save the Project, Save the World”. Project di sini maksudnya FYP dan phrase ini maksudnya copy paste kata-kata Peter Petrelli di Series HEROES “Save the Cheerleader, Save the World”. Btw, aye ga nonton HEROES sih, cuma sering di-spoiler-i aja tentang HEROES, huhuhu. Walau copy-paste-annya Arinto cuma bercanda, tapi keren amat ya, kalau FYP kita bisa save the world. Jadi inget joke-nya Komeng. Kalau mau jujur, di section objectives-nya FYP report, seharusnya kita nulis “Biar bisa LULUS” instead of “Karena topik ini menarik, aplikasinya berguna bagi ini dan itu, bla bla bla.” Haha, betul banget, Meng! Yah, tapi gpp gitu, berharap sedikit-sedikit, siapa tahu kerjaan FYP kita itu suatu saat berguna bagi kemajuan ilmu pengetahuan *weks, gaya amat  =P*. Paling engga, kalau kesimpulan yg didapat adalah, “Project ini GAGAL”, at least student yang bakal ngerjain topik yg sama tahun depan ga bakal se-desperate kita sekarang karena either projectnya ga diterusin atau ganti sistem. Sebagai student yg unfortunately gagal projectnya, gapapa lah, kita jadi “korban” dunia research sesaat, huhuhu. Kalo bahasanya Aziz, “jadi researcher itu pengorbanannya besar, Fik! Elo berbulan-bulan sampai bertahun-tahun investigate something dan akhirnya… Aaaaaaaaaargh, GAGAL! Bisa PhD beneran (Permanent Head Damage), hahaha” Disclaimer: no offense buat mereka yang passionate nge-research, ya, hehe. Daku cuma bercanda. Malah sebenernya salut sama determinasi dan kesabaran kalian =)

      

Terus, setelah lulus kita cari kerja. Saatnya jadi hero beneran nih. Sejak masa-masa panasnya recruitment talk dan career fair, jadi suka iseng lihat-lihat vision mission company-company yang biasanya tampak keren. Dan sejujurnya, dari dulu saya kagum dengan satu company besar bernama WD (pake inisial aja ya, soalnya ga mau promosi =P) yang sudah eksis begitu lama di bidang Family Entertainment. It’s just so cool to know that until today, an ordinary man called WD has inspired parents and made millions of children smile with his movies and songs! Perusahaan-perusahaan yang lain juga keren, terutama Engineering companies. Contohnya perusahaan di bidang Automation yang berkontribusi pada dunia dengan mendesign automation process supaya production line industri-industri yg lain bekerja lebih efektif, aman, dan meraih hasil yang optimum. Yah, di luar kepentingan mencari profit dan sebagainya, ketika keberadaan sebuah company memang membuat dunia lebih baik atau bumi lebih nyaman ditinggali, namanya tetap pahlawan kan? It’s kinda cool if when you wake up each morning, you can say to yourself, “Save the company, save the world! Let’s get busy saving the world!”

      

Yang Berbeda

Saturday, March 10th, 2007

Ada yang begitu spesial dari keberadaanku di sini. Fasilitas yang lebih baik.  Kesempatan untuk melihat dunia lebih luas dan mengenalnya lebih dekat. Bertemu bermacam-macam orang dengan segala kehebatan mereka. Dan masih banyak lagi. Tapi, di samping semua karunia itu, ada sesuatu yang sebenarnya sangat berarti walau mungkin tampak begitu kecil. Di sini, aku berlatih untuk percaya dan memiliki harapan.

    

Tentang sebuah negeri, dengan segala keruwetannya yang memiriskan hati, negeri ini terus-menerus mencoba bertahan dalam cobaan. Kian hari terasa semakin berat. Dan harapan-harapan bahwa segala masalah yang dihadapi akan bisa diatasi pun kian terkikis. Rasanya diri ini terlalu lelah untuk bertahan dengan harapan-harapan itu. Entah karena merasa kecewa terus-menerus dan akhirnya jenuh, atau simply karena tidak punya energi lagi untuk berharap. Prediksi banjir yang lebih parah di tahun 2012? “Hmm… kalau begitu, mungkin cari lokasi tempat tinggal yang baru untuk tahun 2012 nanti, yang kalo bisa seandainya rumah terendam pun tidak akan terlalu parah.” Lalu? Banjirnya bagaimana? Lima tahun… tidakkah kita punya rencana untuk mencegah banjir yang dikhawatirkan ini terjadi?

    

Menengok perjuangan calon engineer di negeri itu, pikiran simpelku menyimpulkan bahwa pada dasarnya mereka yang belajar di sana dan kami yang belajar di sini mempelajari hal yang sama dan mengerjakan tugas yang relatif mirip. Misal, seorang calon environmental engineer di sini belajar tentang bagaimana merencanakan tata kota yang baik. Seorang calon insinyur planologi di sana juga belajar hal yang sama tentunya. Malah mungkin lebih detail. Seorang computer engineer di sini, belajar hal-hal yang dipelajari mereka yang kuliah di teknik komputer atau teknik informatika di sana. Malah mungkin mereka yang di sana lebih jago. Lalu, bagian mana yang berbeda?

   

Yang berbeda ada di visi. Yang berbeda ada di mata. Nanis, lihat simulasi project untuk pencegahan tsunami kan? Dan kamu percaya bahwa ide itu akan berhasil. Nanis, kamu pernah cerita bagaimana sebuah rencana renovasi atau konstruksi di sini perlu proses yang lama untuk mendapat approval dari NEA (National Environment Agency) kan? Dan kita lihat sendiri buktinya, betapa reliable hasilnya. Di sini, kita percaya bahwa sebuah ide atau konsep akan berhasil. Kita membuktikannya sendiri atau melihat buktinya. Dan setelah kita percaya bahwa sebuah solusi akan berhasil, kita punya harapan. Ketika kita punya harapan, kita punya motivasi yang begitu besar untuk merealisasikan ide itu. Dan di sana, bagaimana mungkin harapan datang ketika kita sulit melihat bukti? Sungguh, aku kagum dengan mereka di sana yang terus bertahan untuk percaya dan tak pernah kehilangan harapannya.

    

Sekali lagi, ada yang berbeda di sini. Kita dikelilingi kesempatan dan fasilitas untuk menemukan ide (visi), melihat bukti, dan merasa optimis. Betapa bersyukurnya kita atas kondisi ideal ini. Lalu, bukankah ini pertanda akan sebuah kewajiban yang lain? Untuk berbagi optimisme? Dan bersama mereka yang di sana, kita berjuang…

   

Buat Mbah… ayo bersih2 kota Solo! Awas ya, kalo ga jadi =P Ntar jadi sia-sia kan, ngereport sambil ngobrolnya, ahahaha… Buat dearest Naniz… you’re strong… I have faith in you… Ayo, Niz, kudukung dari belakang =P Buat Adilla… Ayo, Dil, perusahaan penerbitannya ya… atau scriptwriter? Jadi bingung, ahahaha… kudukung dari belakang juga ya =P Buat Mba Ratih aka Kak Bina… terima kasih buat cerita hari ini tentang kemandekan, hehe. Jadi terinspirasi ;)

   

Demam FYP

Tuesday, March 6th, 2007

Lately, hampir semua anak final year diserang wabah panik. Panik FYP! Deadline FYP report submission memang cuma hitungan hari, bukan minggu atau bulan lagi. Plus buat sebagian anak-anak CE yang systemnya belom kelar dan masi ditagih-tagih experiment result or demo, level kepanikannya semakin menjadi-jadi. Aktivitas sehari-hari jadi berbau FYP.

   

Aktivitas 1: Lecture

   

Lagi lecture, malah ngomongin FYP. Jadinya “mentally” skip lecture deh, walau “physically” there, in the LT2A. Untung ga semua subject begitu, cuma satu subject dengan prinsip lecture seimbang: 50% merhatiin lecture, 50% ngerumpi. Ngerumpinya pun pasti sama Meme. Haha, kalo gini siy, mau lagi panik FYP atau engga, sama aja ye? Tetep skip! Biasanya kita bahas problem-problem FYP, dari sobel operator sampai Gabor wavelet. Dari menara Eiffel, menara Pisa, sampai PCA ICA ga jelas. *warning: banyak jargon dalam paragraph ini* Lucunya, kita ga pernah saling ngasi solusi, soalnya ga gitu ngerti juga topik2 itu, walau lumayan familiar karena pernah denger2 dikit =P Tapi cukup lega bisa share ke-frustasi-an satu sama lain.

   

Aktivitas 2: Lunch Bareng

   

Ga hanya di lecture, ketika lagi di kantin, yang diobrolin FYP lagi. Pertanyaan paling umum adalah, “Report udah berapa halaman?” Walau baru nambah 1 halaman, kayaknya udah update berita terbaru aja, ahahaha.

      

Aktivitas 3: Pulang

   

Ketemu orang di jalan, eh ditanyain FYP. Pulang bareng Ari abis MPC, ngomongin FYP juga. Cuma biasanya kita ngomongin FYP sup atau examiner, bukan topik FYPnya, soalnya network sama image processing kan ga nyambung =P

   

Aktivitas 4: Di depan computer

   

Kalo di depan computer, biasanya MSN nyala. Kalo liat contacts yg final year, langsung inget FYP. Kalo chat sama Meme, cuma ada 2 kemungkinan, kalo ga kirim2an mp3 ga jelas, biasanya nanya code Matlab buat FYP. Kalo chat sama Mbah, lagi nge-FYP report, tapi sambil ngerumpi yang laen-laen. Kalo chat sama yang lain, ditanyain FYP jg. Aduh!

    

Anyway, demam FYP lucu juga. Walau agak2 panik, daku koq tidak tampak panik ya? Huhuhu. Kayaknya karena yang laen dah pada panik duluan, hihihi. Semoga kita bisa melewati ini semua succesfully, amin. Goodluck, all the best, ganbatte, jia you buat semua final year-ers =)