…. (part 2)

Melanjutkan postingan sebelumnya…

Hari ini daku baru balik dari kandang macan. Btw ya, setelah sampai di depan kandangnya, daku sempat terpatung sejenak. Macan yang ada di dalam tampak lemah, letih, dan lesu. Dengan super SKSD, daku sapa macannya, “Mas macan, boleh mampir ke dalam?” Dan tiba-tiba si macan langsung tampak bahagia. *Ya iya lah, tiba2 ada “makanan” suka rela menawarkan diri buat dimakan tanpa perlu dikejar-kejar, huhu*. Begitu masuk, dia langsung mempersilakan duduk, di rumput, tentunya (berasa piknik di Chinese garden) dan menyuguhkan makanan ringan ala kadarnya. Tapi tau lah, yang namanya macan, snacknya ya daging juga, macem sosis dan fishball, yang mana semuanya masih mentah >.< jadi daku cuma senyum-senyum aja ga makan. Sebagai macan Singaporean yang lumayan aware dengan status halal makanan ketika ngejamu tamunya yg muslim, dia bilang, “Not makan, ah? Dun worry! Here, everything’s Halal, you know. You see, ah? We got all these animals from many different places, so we’re more careful on food. Like who is muslim, who is vegetarian, in the neighborhood. We even got some animals with allergy.” Dan sekali lagi daku cuma tersenyum-senyum. Kali ini sambil bengong.

Si macan memulai conversation dengan bertanya, “How’s life?” dan mengalirlah perbincangan kita. Tadinya kirain ini jebakan aja, biar lengah, tapi ternyata engga tuh. Dia serius ngobrolnya. Akhirnya tahulah daku bahwa si macan sedang depresi. Setiap hari tinggal di kandang ditontonin orang, Mas macan lelah dengan ekspektasi pengunjung yang begitu tinggi sama dia. Yang berharap dia selalu tampil prima berpose sadis sekaligus cool dari jam 10 pagi sampai sore, setiap hari pula. Padahal dia kan bosan, lagi banyak masalah pula. Padahal kan dia hanyalah macan biasa, yang boleh bete kadang-kadang. Waduh, tiba2 jadi counseling session gini. Dan dalam sekejap daku berubah menjadi seorang counselor. Walau lebih banyak diam (berhubung tidak terlalu mengerti emosi macan, daku takut kalau sotoy daku langsung ditelan) daku menikmati conversation selama 2 jam tersebut.

Waktu pulang, daku dikasih oleh-oleh sama si macan. Tiket gratis masuk Singapore Zoo buat bulan depan! Katanya buat counseling session berikutnya. Daku cuma melongo beberapa detik deh. Tapi tetap tersenyum manis berterima kasih buat tiket gratisnya. Dan berakhirlah cerita ini di sini.

      

Moral of the story:

Cerita ini masih cerita yang biasa, hanya dalam bentuk yang berbeda. Biasa lah, Fika, kadang2 pengen sensasi *bletak!* Cerita ini bukan luapan depresi. Alhamdulillah daku baik2 saja. Tidak depresi, tidak stress (tepatnya malah slacking2 mulu), masih suka ketawa-ketiwi, masih suka GJ, masih suka mengganggu2 dan diganggu2 orang =P Don’t judge a book by its cover, don’t judge me by my writings, hihihi. You didn’t even see my expression when I was writing the previous one, did you? Makanya, internet itu berbahaya, banyak orang bohong di internet *lho? Kesimpulannya koq malah jauh2 sampai sini?*

Sebenarnya cerita ini ga masuk akal. Tapi intinya bukan di ga masuk akal nya =P ngutip ikono, “maklumlah, anak muda”, sering ga masuk akal =P *bletak lagi!* Gw hanya pengen nge-share sebuah point bahwa terkadang, ketika kita baru saja terpikir untuk berhenti atau berputus asa, hikmah dan pertolongan Allah datang. Seperti si gw yang ceritanya mau terjun, ternyata gw melihat ada orang lain (dalam hal ini macan, bukan orang) yang lebih kesulitan daripada gw dan ternyata gw masih bisa membantu si macan buat mengatasi depresinya =9 Tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk berputus asa, bukan? Karena apapun yang kuhadapi, Allah Maha Tahu kemampuan hambaNya. Dan Allah tidak menguji hambaNya di luar kemampuannya =)

“Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan kebajikan, Kami tidak akan membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Mereka itulah penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.” (Al A’raf:42)

Masih ada beberapa perumpamaan lain sih, seperti bagaimana ekspektasi bisa menjadi pressure tersendiri buat macan (baca: manusia). Bahwa macan Singapore Zoo itu tetap macan biasa yang punya perasaan, haha. Yang bisa mood2an juga. Yah, namanya juga macan, punya kelebihan dan kekurangan, ada kalanya sedang kuat dan ada kalanya sedang lemah.

Terakhir, maaf ya buat yang ga berkenan dengan tulisan sebelumnya, hehe. Fanny, makasih banyak, ga ada apa2 koq. Itu penggunaan kata “terjun”nya memang hiperbola sekali. Soalnya, klo ga hiperbola, ga seru, Fan =9 *bletak lagi!* Lagian, Tech sedang menunggukuuuuuuu =9 Ceritanya cuma lagi ada banyak ide random di kepala yang akhirnya berujung pada cerita GJ seperti ini. Mungkin karena mau exam =P

Met persiapan exam, Semua ;)

4 Responses to “…. (part 2)”

  1. Adilla Says:

    Macannya ada yang ganteng nggak Fik? :P *bletak lagi*

  2. Ivan Says:

    gabruk banget siy.. eh. kemaren ivan borong buku gitu..hehe.. mau dibawa ke ciledug ga?

  3. Ivan Says:

    gabruk banget siy.. eh. kemaren ivan borong buku gitu..hehe.. mau dibawa ke ciledug ga?

  4. Radyum Says:

    Woaaaa,, dikerjain ma fika… Sial… Udah gitu nyebut-nyebut nama lagi! Itu quote mahal tuh… Plagiarism!! -_-

Leave a Reply