Yang Berbeda
Ada yang begitu spesial dari keberadaanku di sini. Fasilitas yang lebih baik. Kesempatan untuk melihat dunia lebih luas dan mengenalnya lebih dekat. Bertemu bermacam-macam orang dengan segala kehebatan mereka. Dan masih banyak lagi. Tapi, di samping semua karunia itu, ada sesuatu yang sebenarnya sangat berarti walau mungkin tampak begitu kecil. Di sini, aku berlatih untuk percaya dan memiliki harapan.
Tentang sebuah negeri, dengan segala keruwetannya yang memiriskan hati, negeri ini terus-menerus mencoba bertahan dalam cobaan. Kian hari terasa semakin berat. Dan harapan-harapan bahwa segala masalah yang dihadapi akan bisa diatasi pun kian terkikis. Rasanya diri ini terlalu lelah untuk bertahan dengan harapan-harapan itu. Entah karena merasa kecewa terus-menerus dan akhirnya jenuh, atau simply karena tidak punya energi lagi untuk berharap. Prediksi banjir yang lebih parah di tahun 2012? “Hmm… kalau begitu, mungkin cari lokasi tempat tinggal yang baru untuk tahun 2012 nanti, yang kalo bisa seandainya rumah terendam pun tidak akan terlalu parah.” Lalu? Banjirnya bagaimana? Lima tahun… tidakkah kita punya rencana untuk mencegah banjir yang dikhawatirkan ini terjadi?
Menengok perjuangan calon engineer di negeri itu, pikiran simpelku menyimpulkan bahwa pada dasarnya mereka yang belajar di sana dan kami yang belajar di sini mempelajari hal yang sama dan mengerjakan tugas yang relatif mirip. Misal, seorang calon environmental engineer di sini belajar tentang bagaimana merencanakan tata kota yang baik. Seorang calon insinyur planologi di sana juga belajar hal yang sama tentunya. Malah mungkin lebih detail. Seorang computer engineer di sini, belajar hal-hal yang dipelajari mereka yang kuliah di teknik komputer atau teknik informatika di sana. Malah mungkin mereka yang di sana lebih jago. Lalu, bagian mana yang berbeda?
Yang berbeda ada di visi. Yang berbeda ada di mata. Nanis, lihat simulasi project untuk pencegahan tsunami kan? Dan kamu percaya bahwa ide itu akan berhasil. Nanis, kamu pernah cerita bagaimana sebuah rencana renovasi atau konstruksi di sini perlu proses yang lama untuk mendapat approval dari NEA (National Environment Agency) kan? Dan kita lihat sendiri buktinya, betapa reliable hasilnya. Di sini, kita percaya bahwa sebuah ide atau konsep akan berhasil. Kita membuktikannya sendiri atau melihat buktinya. Dan setelah kita percaya bahwa sebuah solusi akan berhasil, kita punya harapan. Ketika kita punya harapan, kita punya motivasi yang begitu besar untuk merealisasikan ide itu. Dan di sana, bagaimana mungkin harapan datang ketika kita sulit melihat bukti? Sungguh, aku kagum dengan mereka di sana yang terus bertahan untuk percaya dan tak pernah kehilangan harapannya.
Sekali lagi, ada yang berbeda di sini. Kita dikelilingi kesempatan dan fasilitas untuk menemukan ide (visi), melihat bukti, dan merasa optimis. Betapa bersyukurnya kita atas kondisi ideal ini. Lalu, bukankah ini pertanda akan sebuah kewajiban yang lain? Untuk berbagi optimisme? Dan bersama mereka yang di sana, kita berjuang…
Buat Mbah… ayo bersih2 kota Solo! Awas ya, kalo ga jadi =P Ntar jadi sia-sia kan, ngereport sambil ngobrolnya, ahahaha… Buat dearest Naniz… you’re strong… I have faith in you… Ayo, Niz, kudukung dari belakang =P Buat Adilla… Ayo, Dil, perusahaan penerbitannya ya… atau scriptwriter? Jadi bingung, ahahaha… kudukung dari belakang juga ya =P Buat Mba Ratih aka Kak Bina… terima kasih buat cerita hari ini tentang kemandekan, hehe. Jadi terinspirasi
March 10th, 2007 at 8:05 am
obrolan final year…somehow I feel left behind..
T_T
March 10th, 2007 at 4:20 pm
Amin…..ayo fika, aku mendukukungmu (dari belakang) juga !!! hehehe….
March 10th, 2007 at 5:37 pm
Hehehe…selain didukung dari belakang juga ditarik dari depan ya Fik :P. Good luck juga buat Fika, makasih untuk masukan2nya ;).
March 10th, 2007 at 6:38 pm
ayo fik, paling engg bisa cegah banjir di ciledug!hihi
March 10th, 2007 at 9:41 pm
didukung kan dari bawah…
**GeJe Mode.. ON
March 10th, 2007 at 10:17 pm
To Ivan: Ivaaaan… bener banget…haha, jadi ga enak, makasih ya…
To Indah: Makasih, Nak. Ndah Ndah, jadi kangen sama GJ GJ-an Indah (kalo nge-junk kyknya kamu masih deh, aku ga kangen) =P
March 14th, 2007 at 9:27 am
Nice article. Very inspiring for the “gundah” heart as mine
March 18th, 2007 at 8:45 pm
Nanda menyukai paragraf ini..Lebih2 kalimat terakhirnya…
“Sekali lagi, ada yang berbeda di sini. Kita dikelilingi kesempatan dan fasilitas untuk menemukan ide (visi), melihat bukti, dan merasa optimis. Betapa bersyukurnya kita atas kondisi ideal ini. Lalu, bukankah ini pertanda akan sebuah kewajiban yang lain? Untuk berbagi optimisme? Dan bersama mereka yang di sana, kita berjuang…”
Wah seru kl ngebahas masalah ini Fik..Nano nano deh..Pengen ngobrol deh jd nya..:)
Kapan-kapan kita ngobrol ya…Semoga setalah submit report, fika lebih lowong