Sunday, September 30th, 2007
30 September 2007.
Aku sedang baca Catatan Seorang Demonstran. Tentang Soe Hok Gie. Dan aku kembali teringat untuk bangga menjadi orang indonesia. Bangga atas jiwa-jiwa ksatria yang tidak pernah lelah meneriakkan keadilan dan kejujuran atas nama moral. Atas nama kecintaan akan indonesia. Karakter-karakter yang sepertinya ada dalam dunia mimpi saja, tapi nyata di bumi Indonesia.
Negeri ini memang selalu bergolak. Sejak tahun itu, 1945. Hingga kini, 2007. Entah kenapa, 62 tahun sepertinya kami tak pernah benar-benar bahagia. Atau mungkin memang tak mungkin bangsa ini menjadi bahagia? Rakyat tetap sengsara setelah indonesia merdeka. Demokrasi terpimpin dan pemerintah lupa diri, lalai dalam kesenangan kekuasaan. Yang aku tahu, kemudian orde baru datang dan memberi rakyat harapan. Perekonomian memang lebih baik dan rakyat lebih mampu bernafas. Tapi negeri ini bagai drama saja. Rekayasa politik dan pembodohan di mana-mana.
Satu dekade lalu, hati para ksatria terluka. Katanya walau harganya mahal, politik mulai bangun dari tidur lelapnya. Katanya ada pelajaran besar tentang kebebasan dan demokrasi. Sekarang, setelah politik tak lagi bisa menyembunyikan dirinya, aku benar-benar tak tahu mau bilang apa. Apa indonesia sekarang lebih baik? Ah, Bapak Ibu, sepertinya ksatria-ksatria di jalan itu, mereka belum boleh bicara lelah. Aku tak tahu sampai kapan mereka harus terus-menerus mencoba mengoyak nuranimu. Yang jelas, sepertinya perjuangan mereka tidak akan selesai secepat itu. (maaf, aku hanya bicara tentang mereka. Dengan malu aku harus bilang, selama ini aku belum pernah berbaris bersama mereka).
Pahlawan, ‘manusia-manusia baru’ indonesia, kalau boleh meminjam istilah Gie untuk mereka yang lahir setelah kemerdekaan. Hidup seperti seorang pahlawan memang bukan berarti hidup seperti seorang Hok Gie. Tapi hidup yang jauh dari kesadaran kehidupan seperti yang Gie jalani, apa mungkin bisa menjadi pahlawan? At least, apa karakter akan tercoba dan idealisme akan terbangun? Gie, sudah sejak kecil begitu benci ketidakadilan atau perbuatan semena-mena oleh mereka yang berkuasa, termasuk gurunya yang menurunkan nilainya dalam sebuah mata pelajaran. Kemudian Gie tumbuh menjadi ‘manusia bebas’. Menjadi seorang intelektual, yaitu menyadari kelebihan dalam diri dan kemudian menyadari adanya tanggung jawab lebih untuk melakukan sesuatu. Meneriakkan keadilan lewat artikel-artikelnya. Hingga musuh pun bertambah. Hingga nyawa pun terancam. Dan sebagai seorang pahlawan menerima takdirnya. Takdir untuk kesepian.
Cuma satu yang ada di kepalaku sekarang. Aku malu. Bahkan menulis pun sekarang tak bisa. Seandainya menulis pun, semua dipaksa dari otak, bukan lewat inspirasi. Akhirnya menulis jadi makan waktu lama. Sudah lama, tak memuaskan pula. Karena semua kata keluar lewat otak, bukan hati.
Ah, sudah lama aku rindu sosok pahlawan. Tadinya kupikir ada bayang-bayang pahlawan di sini. Tapi aku lebih banyak melihat politik daripada moral. Bukan moralnya yang salah, tapi memang mungkin tidak ada lagi yang perlu digelisahkan secara moral di sini. Pemerintah bekerja keras tahu tujuan, untuk rakyat makmur, hidup nyaman dan tenang. Ya sudah, berarti tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan? Malah ujung2nya jadi kurang baik, masyarakat gampang complain ga penting karena standard hidup dan ekspektasi sudah tinggi, entahlah. Kalau sudah serba mudah begini, buat apa rakyat bawa-bawa bendera demokrasi? Tak peduli, politik hanya masalah mengisi posisi. Politik akhirnya hanya kupandangi dengan hampa.
Yah, paling tidak, dari politik hampa ini aku sudah membuktikan satu hal. Salah satu tanda kehidupan yang masih sehat adalah ketika manusia masih merasa dunia itu dinamis (bergerak). Masih menginginkan peningkatan dalam hidup, dalam segi apapun. Kini, mempertahankan pekerjaan sebagai tukang becak 20 tahun saja sudah harus disyukuri. Rasanya terlalu macam-macam (atau lebih biasa diistilahkan tidak tahu diri) untuk menginginkan kehidupan yang lebih baik ketika kehidupan bernegara sedang serba sulit (bagi sebagian besar saja karena sebagian kecil yang lain hidup sangat berkecukupan). Tukang becak mungkin dalam hatinya ingin tidak menjadi tukang becak lagi. Tapi, kapan tukang becak akhirnya berhenti menjadi tukang becak? Kalau alasannya karena zaman sedang sulit, sulit saja terus? Memang siapa yang akan menjamin kapan kesulitan ini akan berakhir. Ah, Tuhan. Manusia indonesia harus berhenti menyerah pada keadaan. Saat ini juga, harus ada kekuatan sebelum kekuatan itu sendiri jemu dan habis. Dan pada akhirnya nasib manusia indonesia bisa berubah… Tapi kapan? Mungkin memang belum waktunya berhenti bersabar…